Kumpulan Amaliah Nahdlatul Ulama NU

Kumpulan Amaliah Nahdlatul Ulama NU Free App

Rated 0.00/5 (0) —  Free Android application by RALnetID

Advertisements

About Kumpulan Amaliah Nahdlatul Ulama NU

Kumpulan Amaliah Nahdhatul Ulama NU

“ Apa yang dilihat orang Muslim baik, maka hal itu baik di sisi Allah”(HR. Malik)

Sejarah diterimanya kehadiran Islam di Nusantara dengan kondisi keagamaan masyarakat yang menganut paham animisme (Hindu, Budha), tidak bisa dilepaskan dari cara-cara dan model pendekatan dakwah para mubaligh Islam kala itu yang ramah dan bersedia menghargai kearifan budaya dan tradisi lokal. Sebuah pendekatan dakwah yang terbuka dan tidak antipati terhadap nilai-nilai normatif diluar Islam, melainkan mengakulturasikanya dengan membenahi penyimpangan didalamnya dan memasukan ruh-ruh keIslaman kedalam subtansinya. Maka lumrah jika kemudian corak amaliyah dan ritualitas Muslim Nusantara khususnya Jawa, kita saksikan begitu kental diwarnai dengan tradisi dan budaya khas lokal, seperti ritual selamatan, kenduri dan lain-lain.
Amaliyah dan ritual-ritual keagamaan yang bercorak budaya lokal dengan segala kekhasan tradisinya seperti itu, sampai kini tetap dilestarikan oleh Muslim Nusantara khususnya kaum Nahdliyin. Amaliyah keagamaan seperti itu tetap dipertahankan karena kaum nahdliyin meyakini bahwa ritual-ritual dan amaliyah yang bercorak lokal tersebut hanyalah sebatas teknis atau bentuk luaran saja, sedangkan yang menjadi subtansi di dalamnya murni ajaran-ajaran Islam. Dengan kata lain, ritual-ritual yang bercorak tradisi lokal hanyalah bungkus luar, sedangkan isinya adalah nilai-nilai ibadah yang diajarkan oleh Islam.
Sebagai contoh, ritual selamatan atau kenduri yang dilakukan dengan seremonial pada waktu-waktu tertentu sesuai dengan kebiasaan lokal yang berlaku, didalamnya diisi dengan ibadah-ibadah yang dianjurkan Islam seperti bersedekah, dzikir, berdo`a, membaca Al Qur`an dan lain sebagainya. Mengenai seremonial atau penentuan waktu tersebut, tidak lebih hanyalah kemasan luar sebagai bentuk penyesuaian dengan teknis dan kebiasaan yang berlaku ditengah masyarakat dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Dalam pandangan kaum Nahdliyin kehadiran islam yang dibawa oleh Rosulullah SAW. Bukanlah untuk menolak tradisi yang telah berlaku dan mengakar menjadi kultur kebudayaan masyarakat, melainkan sekedar untuk melakukan pembenahan dan pelurusan terhadap tradisi dan budaya yang tidak sesuai dengan risalah Rosulullah. Budaya lokal yang mapan menjadi nilai normatif masyarakat dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam, maka Islam akan mengakulturasikanya bahkan mengakuinya sebagai bagian dari budaya dan tradisi Islam itu sendiri.
Kendati demikian amaliyah dan ritual keagamaan kaum nahdliyin seperti itu sering mengobsesi sebagian pihak untuk menganggapnya sebagai praktek-praktek mistisme, Khurafat, Bid`ah bahkan syirik.
Anggapan demikian sebenarnya lebih merupakan subyektivitas akibat terjebak dalam pemahaman Islam yang sempit dan dangkal serta tidak benar-benar memahami hakekat amaliyah dan ritual kaum Nahdliyin tersebut. Pihak-pihak yang seperti itu, wajar apabila kemudian dengan mudah melontarkan tuduhan bid`ah atau syirik terhadap amaliyah dan ritualitas kaum Nahdliyin, seperti tahlilan, maulid Nabi, Manakib, Ziarah kubur dan amaliyah-amaliyah lainya.
Tuduhan-tuduhan bid`ah seperti itu sangat tidak berdasar secara dalil maupun ilmiah dan lebih merupakan sikap yang ncerminkan kedangkalan pemahaman keislaman. Adapun hadis yang menyatakan: setiap bid`ah adalah sesat ”Harus dibaca dan diproporsikan hanya dalam konteks ritual ibadah yang sama sekali tidak memiliki dasar hukum baik berupa dalil khusus ataupun dalil umum”.

Aplikasi ini berisi tentang amaliah yang umumnya dilakukan dikalangan warga Nahdhatul Ulama beserta dalil-dalilnya.

Semoga aplikasi ini bermanfaat Nahdlatul Ulama NU set Amaliah

"What do people see good Muslim, then it is good in the sight of God" (HR. Malik)

History acceptance of the presence of Islam in the archipelago with the religious condition of society that adopts animism (Hinduism, Buddhism), can not be separated from the ways and models of propaganda approach the preachers of Islam at that time were friendly and willing to appreciate the wisdom of local culture and tradition. An approach that is open and not propaganda antipathy towards normative values ​​outside of Islam, but mengakulturasikanya to fix irregularities therein and the Islamic souls enter into the substance. So natural that later complexion amaliyah and Muslim spirituality archipelago, especially Java, we have witnessed so thick colored with cultural traditions and local specialties, such as salvation ritual, festivity and others.
            Amaliyah and religious rituals are patterned local culture with all the peculiarities of the tradition like that, until now still be preserved by Muslim archipelago especially the Nahdliyin. Such religious Amaliyah maintained because the nahdliyin believe that rituals and the local patterned amaliyah which was limited to technical or outer form only, while the substance in which the pure teachings of Islam. In other words, rituals patterned outer wrap is just a local tradition, while its contents are religious values ​​taught by Islam.
            For example, the salvation ritual or ceremonial feast done at certain times in accordance with prevailing local customs, therein is filled with worship advocated Islam such as charity, dhikr, berdo`a, read Al Qur`an and others. Regarding the ceremonial or timing, no more just the outer packaging as the adjustment with the applicable technical and habits in the community and not against Islamic teachings.
            In view of the Nahdliyin presence of Islam brought by Prophet Muhammad. Not to reject the traditions that have been enacted and entrenched into the culture of the community culture, but simply to make corrections and streamlining of the tradition and culture that is not in accordance with the minutes of the Prophet. Well-established local culture becomes normative values ​​of society and does not conflict with the teachings of Islam, then Islam will mengakulturasikanya even recognize it as a part of the culture and traditions of Islam itself.
            Nevertheless amaliyah and religious rituals of the nahdliyin as it often obsess some people to think of it as practice mysticism, superstition, Bid`ah even shirk.
            The presumption thus actually more of a subjectivity being trapped in the understanding of Islam narrow and shallow and did not really understand the essence of the ritual amaliyah and the Nahdliyin. Parties are like it made sense that then easily bid`ah or shirk accusations against the Nahdliyin amaliyah and spirituality, as tahlilan, the Prophet's birthday, Manakib, Pilgrimage amaliyah-amaliyah tomb and others.
                Allegations bid`ah as it was not based proposition and scientific and more of an attitude that ncerminkan shallowness of understanding of Islam. As for the hadith which states: every bid`ah is misguided "Must read and proportioned only in the context of worship rituals that have absolutely no legal basis in the form of special or general proposition proposition".

This application contains amaliah generally conducted among residents of Nahdlatul Ulama along with their arguments.

Hopefully this app helpful

Never Miss An Update!

Follow Android Blip on Facebook / Google+


How to Download / Install

Download and install Kumpulan Amaliah Nahdlatul Ulama NU version 3.0.0 on your Android device!
Downloaded 1+ times, content rating: Everyone
Android package: com.amaliah.nu2, download Kumpulan Amaliah Nahdlatul Ulama NU.apk

All Application Badges

Free
downl.
Android
2.3+
For everyone
Android app


Oh snap! No comments are available for Kumpulan Amaliah Nahdlatul Ulama NU at the moment. Be the first to leave one!

Share The Word!


Rating Distribution

RATING
0.05
0 users

5

4

3

2

1